PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (Mitratel) mengajukan rencana penyederhanaan struktur grup melalui penggabungan usaha (merger) dengan dua anak usahanya, PT Persada Sokka Tama (PST) dan PT Ultra Mandiri Telekomunikasi (UMT). Langkah ini mengikuti jejak induknya, PT Telkom Indonesia Tbk.

Manajemen menyatakan kedua perusahaan yang akan digabung merupakan entitas anak yang 100% sahamnya dikendalikan Mitratel, sehingga transaksi dikategorikan sebagai transaksi afiliasi tanpa menyebabkan dilusi kepemilikan.

Menurut penjelasan resmi perusahaan, tujuan merger mencakup peningkatan skala dan portofolio, optimalisasi rasio kolokasi, efisiensi biaya operasional, penguatan struktur permodalan, perluasan jangkauan, dan peningkatan nilai bagi pemegang saham.

“Secara keseluruhan, sinergi yang dihasilkan dari penggabungan usaha diproyeksikan menciptakan pertumbuhan nilai jangka panjang bagi seluruh pemegang saham MTEL, tercermin dari peningkatan profitabilitas, pertumbuhan aset dan penguatan fundamental MTEL,” jelas manajemen Mitratel.

RUPST Dan Proses Persetujuan

Perseroan akan meminta persetujuan pemegang saham atas rencana penggabungan usaha dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang dijadwalkan pada Selasa, 30 Juni 2026. RUPST akan dilaksanakan setelah RUPS Luar Biasa yang membahas penambahan kegiatan usaha sebagai konsekuensi merger.

Jika disetujui, Mitratel menyatakan portofolio bisnisnya akan bertambah mencakup jasa akses internet, konsultasi dan perancangan internet of things (IoT), penyediaan tenaga kerja waktu tertentu, serta layanan telekomunikasi lainnya. Penambahan ini disebut bukan ekspansi ke bidang baru, melainkan penyesuaian administratif, legal, dan operasional untuk melanjutkan kegiatan yang sebelumnya dikelola PST dan UMT.

Skema Buyback Saham

Bagi pemegang saham yang menolak merger, Mitratel menawarkan pembelian kembali (buyback) saham maksimal sebanyak 5.783.251.844 saham atau setara 6,93% dari modal, dengan harga per saham Rp515, sehingga nilai maksimal buyback mencapai sekitar Rp2,97 triliun. Harga ini mengacu pada penutupan perdagangan saham MTEL pada 8 Mei 2026.

Perusahaan menyatakan PT Telkom Indonesia akan bertindak sebagai pembeli siaga apabila jumlah saham yang akan dibeli melewati batas maksimum. Mitratel juga mendorong pihak ketiga untuk membeli sisa saham yang tidak terserap hingga maksimal 15.181.781.657 saham atau senilai Rp7,81 triliun.

Telkom menegaskan memiliki dana yang cukup sebagai pembeli siaga dalam surat pernyataan tertanggal 24 Juni 2026. Dalam laporan disebutkan Telkom memiliki kas dan setara kas sebesar Rp16,66 triliun, yang dinilai melebihi estimasi maksimum kewajiban sebagai pembeli siaga.

Target Pasca-Merger

Mitratel menargetkan proses merger efektif pada 1 Juli 2026. Setelah itu, perusahaan akan mendorong akselerasi pertumbuhan portofolio, peningkatan layanan, diversifikasi produk, serta efisiensi dan digitalisasi operasional.

Manajemen juga menyatakan komitmen untuk mengelola keuangan secara prudent, memperkuat tata kelola perusahaan, dan berkontribusi pada agenda digitalisasi nasional melalui penggabungan ini.

Rangkaian Streamlining Telkom

Sebelumnya, Telkom menargetkan menyisakan 15 anak usaha dari total 67 anak usaha, dengan upaya menutup atau mendivestasikan 10 anak usaha pada akhir Juni 2026. Direktur Utama Telkom menyebut streamlining anak usaha sebagai bagian dari pilar strategi lima tahunan untuk mendorong pertumbuhan profitabilitas berkelanjutan.

Penambahan Tiga Lini Bisnis Energi

Selain merger, Mitratel akan meminta persetujuan pemegang saham pada RUPST untuk menambah tiga lini usaha baru: bisnis pemasangan jaringan listrik, pengoperasian instalasi penyediaan tenaga listrik, dan penyediaan tenaga listrik secara terpadu.

Perusahaan menyebut penambahan usaha tersebut sebagai penyesuaian arah bisnis untuk memenuhi kebutuhan pelanggan dan memperkuat posisi Mitratel dalam ekosistemnya. Dalam penjelasan, Mitratel menilai pentingnya kemampuan menyediakan energi secara mandiri dan efisien bagi aset seperti menara telekomunikasi.

Pengembangan pembangkitan tenaga listrik, termasuk yang berbasis energi terbarukan dan sistem hybrid, diharapkan meningkatkan efisiensi operasional, mengurangi ketergantungan pada pasokan eksternal, dan mendukung prinsip keberlanjutan.

“Dalam upaya menyediakan layanan yang lebih terpadu dan andal, perseroan terus mengembangkan variasi layanan, mengoptimalkan pemanfaatan aset yang dimiliki, serta meningkatkan efisiensi operasional sebagai bagian dari strategi pertumbuhan jangka panjang,” tambah manajemen.

Proyeksi Keuangan

Mitratel memproyeksikan tambahan tiga lini bisnis energi tersebut akan memberikan kontribusi pendapatan sebesar Rp47,2 miliar selama periode 2026–2030. Dari sisi neraca, total aset diperkirakan bertambah sekitar Rp269 miliar pada 2026 dan akan mengalami penurunan bertahap karena depresiasi.

Dampak terhadap profitabilitas diperkirakan berupa kenaikan tipis pada margin EBITDA, sementara margin EBIT dan margin laba bersih diperkirakan sedikit terkoreksi akibat beban depresiasi yang relatif tinggi. Namun, dalam nilai nominal, EBIT dan laba bersih diproyeksikan tetap tumbuh.