Pemerintah memberikan serangkaian relaksasi terhadap perlindungan hukum dan perpajakan bagi obligasi yang diterbitkan Danantara Indonesia, termasuk instrumen seperti Patriot Bonds dan Merah Putih Bonds, dengan tujuan meningkatkan minat investor.
Insentif yang disiapkan disebut-sebut membuat obligasi Danantara berbeda posisi dibanding surat utang lain dan memunculkan kekhawatiran bahwa pasar dapat terpolarisasi.
Pasal Kontroversial dalam Perubahan UU
Relaksasi tercantum dalam pasal sisipan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2026 tentang perubahan atas UU Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK) yang disahkan dalam rapat paripurna pada 4 Juni 2026. Pasal yang menjadi sorotan adalah Pasal 50A.
Pada Pasal 50A ayat 5 disebutkan negara menjamin dan melindungi instrumen surat utang dari penuntutan pidana umum, pidana khusus termasuk pidana perpajakan, serta dari gugatan perdata. Ayat 6 menyatakan data transaksi pembelian surat utang khusus oleh investor tidak dapat dijadikan dasar pengenaan pajak maupun alat bukti hukum di pengadilan. Dua ketentuan itu berlaku untuk transaksi di pasar primer.
Selain itu, Pasal 50A ayat 9 menyatakan investor yang membeli surat utang Danantara masuk kategori wajib pajak yang telah mengikuti program pengampunan pajak dan pengungkapan sukarela sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
Tanggapan Analis: Positif Tapi Perlu Hati-hati
Kepala Riset KB Valbury Sekuritas Fikri C. Permana menilai dukungan pemerintah terhadap obligasi Danantara memiliki sisi positif bagi pasar, tetapi menekankan perlunya kehati-hatian karena perbedaan mencolok dibanding surat utang lain termasuk Surat Utang Negara (SUN).
Fikri mengatakan perubahan UU itu bisa menunjukkan persoalan daya saing (competitiveness) obligasi Danantara sehingga pemerintah memberikan relaksasi. Menurutnya, pemerintah seharusnya mengutamakan perbaikan tata kelola (governance) untuk meningkatkan kepercayaan terhadap Danantara.
“Misalnya, tata kelola dan segala macamnya diperbaiki. Sampai sekarang laporan keuangan (Danantara) belum keluar. Yang kayak gitu mungkin harus diperhatikan,”
Fikri menyatakan ketiadaan laporan keuangan menyulitkan analis untuk menilai kondisi arus kas dan rasio coverage. Tanpa informasi itu, analisis fundamental menjadi terbatas.
Meski peringkat obligasi Danantara mengikuti induknya, Fikri menegaskan peringkat saja tidaklah cukup tanpa transparansi informasi arus kas. “Kalau (arus kas) itu sudah dijelaskan atau dikelola dengan baik, harapannya tentunya appetite investor juga akan lebih baik nantinya,” ujarnya.
Risiko Polarisasi Pasar
Fikri mengingatkan stimulus regulasi bagi investor obligasi Danantara berpotensi memecah peta pasar surat utang. Keistimewaan berupa insentif pajak dan perlindungan hukum membuat surat utang Danantara menjadi lebih menarik dibanding instrumen lain.
Akibatnya, kata Fikri, dana bisa berpindah menuju obligasi Danantara secara signifikan. Ia menekankan perlunya tata kelola yang rapi karena keistimewaan ini berpotensi menimbulkan ketidakadilan bagi penerbit surat utang lain.
“Surat utang yang lain dikenakan tarif atau pajak. Sedangkan surat utang Danantara tidak. Bahkan, untuk suatu surat utang saja, kita ada pajaknya. Jadi, saya pikir, kalau dibiasakan seperti ini, mungkin akan sangat menguntungkan satu pihak saja. Tapi, membuat pasar dangkal (market shallow) atau semakin terpolarisasi. Bukannya mendorong financial deepening menjadi lebih baik, malah membuat pasar menjadi semakin shallow,”
Respons Pasar Internasional dan Daya Tarik Kupon
Sebelumnya, Danantara Indonesia melalui PT Danantara Investment Management (DIM) melaporkan penerbitan obligasi internasional perdana senilai US$1,5 miliar yang ramai diburu investor global. Penerbitan dilakukan dalam dua seri: tenor 5 tahun dengan kupon 5,35% dan tenor 10 tahun dengan kupon 5,95%.
Tingkat minat terlihat dari peak orderbook yang mencapai sekitar US$4,6 miliar, lebih dari tiga kali nilai penerbitan. Pemesanan datang dari investor institusi di Amerika Serikat, Eropa, Timur Tengah, Afrika, dan Asia.
Manajemen Danantara menyatakan tingginya kepercayaan pasar internasional mencerminkan keyakinan terhadap fundamental, tata kelola, dan prospek jangka panjang Danantara. Mereka berharap hasil itu memperkuat keyakinan investor domestik dan publik terhadap kerangka institusional Danantara Indonesia.
Fikri menilai daya tarik investor global tidak lepas dari besaran kupon yang ditawarkan dalam denominasi dolar AS. “Menurut saya, kalau dalam satuan USD kuponnya menarik dengan peringkat triple B. Jadi, ini mungkin pendorong utama kenapa surat utang Danantara cukup diminati,” kata Fikri.
Dia menambahkan bahwa status Danantara sebagai salah satu sovereign wealth fund besar dan aliran dana dari perusahaan BUMN membuat risiko gagal bayar kecil, kecuali jika peringkat (rating) Danantara turun (downgrade) yang berdampak pada status investment grade dan bisa memengaruhi obligasi yang dirilis Danantara.
Ikuti Ihram.co.id
