Nilai tukar rupiah kembali mengalami pelemahan pada penutupan perdagangan Senin, 22 Juni 2026. Mata uang domestik ditutup di level Rp 17.843 per dolar AS, turun 39 poin dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di Rp 17.801 per dolar AS.

Pergerakan ini terjadi saat sentimen eksternal yang kuat bertemu dengan perkembangan domestik yang turut menarik perhatian pelaku pasar.

Sentimen Global dan Data AS

Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menyebut ketegangan geopolitik di Timur Tengah sebagai salah satu faktor utama pelemahan rupiah. Menurutnya, pernyataan Presiden AS Donald Trump tentang kemungkinan tindakan militer tambahan terhadap Iran — kecuali ada upaya mengendalikan kelompok Hizbullah di Lebanon — menimbulkan guncangan di pasar global.

Ibrahim juga menyoroti fokus pelaku pasar pada rilis data ekonomi AS yang dijadwalkan minggu ini. “Perhatian pasar pada data ekonomi AS minggu ini, terutama pada perkiraan terakhir angka Produk Domestik Bruto (PDB) untuk kuartal pertama tahun 2026 dan Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi Inti (PCE), ukuran inflasi pilihan The Fed akhir pekan ini untuk petunjuk baru tentang arah kebijakan moneter,” ujarnya.

Proyeksi Analis dan Pengaruh Harga Minyak

Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, memproyeksikan rupiah berpotensi melemah kembali ke kisaran Rp 17.780–17.830 per dolar AS. Rully mengaitkan prospek ini dengan naiknya harga minyak dunia seiring eskalasi geopolitik antara AS dan Iran.

“Seiring ancaman (AS) untuk menyerang Lebanon jika Hizbullah masih terus menyerang Israel membuat perundingan AS dan Iran yang akan berlangsung di Swiss terancam batal serta membuat indeks dolar AS tetap bertengger di level 100.8,” kata Rully.

Dinamika Domestik

Dari sisi dalam negeri, Rully mencatat rupiah juga tertekan oleh rencana pemerintah yang akan menggelontorkan sejumlah insentif untuk mendongkrak ekonomi. Selain itu, pengumuman dari MSCI menjadi perhatian pasar terkait status pasar saham Indonesia, apakah akan tetap berstatus emerging markets atau mengalami down grade.

— “Namun pengumuman MSCI akan menjadi perhatian pasar apakah pasar saham indonesia akan di down grade atau tetap di emerging markets,”

Perpaduan tekanan geopolitik, fokus pada data perekonomian AS, dan faktor domestik menjadikan rupiah rentan terhadap fluktuasi dalam jangka pendek.