Bank Indonesia (BI) meluncurkan model pembinaan baru untuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui program Transformasi Kewirausahaan UMKM Terpadu. Berbeda dengan praktik sebelumnya, bantuan modal tidak langsung dicairkan; peserta wajib menuntaskan rangkaian pelatihan, sertifikasi, praktik atau magang, serta evaluasi usaha terlebih dahulu.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan pendekatan itu dimaksudkan agar pelaku UMKM memiliki kesiapan teknis dan kemampuan bisnis sebelum menerima dukungan permodalan. Perubahan ini disebut meliputi tiga tahap utama: pendidikan kewirausahaan, sertifikasi dan magang, serta evaluasi dan pendanaan.

Rangkaian Program Pembinaan

Perry menjelaskan tahap pertama berupa pendidikan kewirausahaan yang menitikberatkan pada penguatan keterampilan teknis sesuai bidang usaha dan kemampuan mengelola bisnis. Menurutnya, keterampilan teknis saja tidak cukup untuk menjamin keberhasilan usaha; aspek manajerial dan perencanaan juga krusial.

— “Wirausaha itu harus ada dua aspek. Kalau kemampuan teknisnya, dan kemampuan bisnisnya,” kata Perry.

Setelah menjalani pendidikan dan mendapat sertifikasi, peserta akan mengikuti tahap praktik atau magang untuk menerapkan pengetahuan dalam situasi usaha nyata. Tahapan magang ini menjadi sarana uji bagi kemampuan peserta sebelum dinilai lebih lanjut.

“Setelah membuat sertifikasi, baru diceburkan uji coba magang. Kalau di pesantren, nyantri, ya sudah lulus, kami magangkan,” ujar Perry.

Evaluasi dan Pemberian Modal

Selama praktik, evaluasi dilakukan untuk mengukur kompetensi dan kesiapan menjalankan usaha. Contohnya, peserta yang memilih bidang barista akan diuji kemampuan menyajikan kopi sesuai standar; peserta bidang lain dinilai dari kualitas produk, kelayakan usaha, dan kesiapan operasional.

Peserta yang lulus evaluasi akan memperoleh sertifikasi lanjutan dan berhak memasuki tahap pendirian usaha serta menerima dukungan modal.

“Kalau sudah lulus dapat sertifikasi lagi. Setelah itu baru dikasih modal. Modalnya belakangan,” kata Perry.

Pengalaman dan Cakupan Program

Perry menuturkan BI telah berpengalaman mengembangkan UMKM melalui jaringan kantor perwakilan di seluruh Indonesia. Hingga kini, lebih dari 3.000 UMKM telah dibina dalam berbagai sektor, termasuk batik, kopi, beras, cabai, keripik, singkong, dan ekonomi kreatif.

Selain itu, BI juga aktif mendorong pemberdayaan ekonomi pesantren. Perry menyebut terdapat perhatian terhadap sekitar 36.000 pesantren, dengan sekitar 1.500 pondok pesantren yang sudah mandiri secara ekonomi.

Perry berharap skema pembinaan bertahap ini mampu memperluas dampak program UMKM secara nasional. Dengan urutan pendidikan, praktik, evaluasi, pendampingan, dan pemberian modal, peserta diharapkan memiliki fondasi usaha yang lebih kuat sebelum berkembang.