Sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan mencapai puncak musim kemarau pada Agustus–September 2026. Kondisi itu menjadi perhatian karena bertepatan dengan fase El Nino yang berlangsung sejak April–Mei 2026.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan empat rekomendasi strategis untuk menjaga produksi pangan nasional: mempercepat masa tanam, memprioritaskan pasokan air pada fase kritis tanaman, memakai varietas genjah, serta mengurangi ekspansi lahan di wilayah yang sangat rawan kekeringan.
Penjelasan BMKG
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menegaskan musim kemarau dan El Nino adalah dua fenomena berbeda. Musim di Indonesia berganti antara hujan dan kemarau setiap tahun, sedangkan El Nino muncul setiap 3–7 tahun dan durasinya bervariasi.
“Diperkirakan El Nino yang dimulai sejak sekitar April atau Mei 2026 itu akan berakhir di Mei tahun depan. Namun, untuk tahun depan, musim kemarau kita tidak bersamaan dengan terjadinya El Nino. Yang perlu kita waspadai, ketika fenomena El Nino terjadi bersamaan dengan musim kemarau karena akan membuat hujan lebih sedikit seperti yang kita alami di tahun ini,” ujar Teuku saat rapat koordinasi pengendalian inflasi daerah, Senin (29/06/2026).
Risiko Terhadap Tanaman dan Rekomendasi
BMKG memaparkan kebutuhan air dan tingkat risiko beberapa komoditas: padi membutuhkan air tinggi dengan risiko tinggi, jagung memiliki kebutuhan dan risiko sedang, kedelai berisiko rendah–sedang dan cukup adaptif, sedangkan sorgum rendah risiko dan adaptif.
Dampak kemarau yang dipaparkan mencakup mundurnya masa tanam, gangguan fase vegetatif-generatif, penurunan produktivitas, serta peningkatan risiko puso. Untuk itu BMKG merekomendasikan memajukan tanam sebelum defisit air memuncak, memprioritaskan pasokan air pada fase kritis tanaman, menggunakan varietas genjah, serta menghentikan ekspansi lahan di wilayah yang sangat rawan kekeringan.
“Masyarakat tidak perlu panik dengan El Nino. BMKG siap mendampingi pemerintah daerah (pemda), Dinas Pertanian di tiap daerah, untuk dapat menilai lagi dampak dan risiko kemarau terhadap tanaman, apakah misal nanti mundur tanamnya,” kata Teuku. BMKG juga mengingatkan potensi kenaikan harga pangan akibat kemarau yang lebih panjang dan merekomendasikan penguatan cadangan pangan pemerintah.
Respon Pemerintah Daerah Dan Kementerian
Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menyatakan dampak El Nino berpotensi menimbulkan kekurangan air yang mengganggu produksi pangan dan berimbas pada inflasi. “Ini harus diantisipasi, termasuk oleh Kementerian Pertanian, agar jangan sampai produksi pangan turun karena bisa berpengaruh ke produksi, program swasembada, dan pengendalian inflasi,” ujar Tito.
Dari Kementerian Pertanian, Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Muhammad Agung Sunusi menyebut Menteri Pertanian telah mengeluarkan surat nomor B-73/TI.050.M/03/2023 tertanggal 9 Maret 2026 tentang antisipasi dampak kemarau terhadap produksi pertanian. Surat itu meminta langkah-langkah strategis seperti optimalisasi pengelolaan air irigasi dan gerakan percepatan tanam.
Ketahanan Pangan Nasional
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah RI Muhammad Qodari mengatakan ketahanan pangan Indonesia saat ini kuat berkat kebijakan pemerintah yang propertanian. Ia mengutip data produksi beras nasional 2025 menurut Badan Pusat Statistik sebesar 34,69 juta ton, serta catatan organisasi internasional dan lembaga lain yang angka produksinya tidak jauh berbeda.
Qodari menambahkan stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) pada Juni 2026 tercatat 5,3 juta ton, yang disebutnya tertinggi dalam sejarah Indonesia. Ia juga menyinggung kebijakan pupuk bersubsidi, penyaluran yang terintegrasi secara digital, serta penurunan harga pupuk bersubsidi sebesar 20% sejak Oktober 2025 sebagai bagian dari dukungan terhadap petani.
“Keberpihakan pemerintah terhadap sektor pertanian RI telah membuahkan hasil manis. Ketahanan pangan nasional kita menguat,” ujar Qodari dalam pernyataannya melalui video.
Ikuti Ihram.co.id
