PT Air Minum Jaya (PAM Jaya) membuka peluang menggunakan pasar modal sebagai sumber pendanaan jangka panjang. Perusahaan milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta itu menyebut persiapan menuju penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) telah mencapai sekitar 75-78%.

Direktur Utama PAM Jaya Arief Nasrudin mengatakan perseroan tengah mengkaji berbagai pendekatan pembiayaan (financing) untuk memperkuat perusahaan, namun keputusan akhir tetap berada di tangan pemegang saham.

“Kami sangat senang hari ini bisa memberikan penjelasan kepada masyarakat dan publik bahwa kami sedang dalam proses memperbaiki infrastruktur perusahaan, sekaligus melakukan pergerakan yang masif agar pelayanan kami menjadi lebih baik lagi,” kata Arief dalam acara Investor Daily Roundtable di Gedung BEI, Jakarta, Selasa (30/6/2026).

Sebagai bagian dari persiapan, PAM Jaya telah menunjuk sejumlah konsultan keuangan dan konsultan hukum. Secara keseluruhan, menurut manajemen, progres telah berada di jalur yang tepat.

Meski demikian, Arief menyatakan masih ada sejumlah aspek yang perlu ditinjau kembali untuk mengevaluasi program-program yang telah dan akan dijalankan. Tahun ini PAM Jaya memasuki usia 130 tahun, sehingga beberapa aspek fundamental dianggap perlu pembaruan agar relevan dengan perkembangan saat ini.

“Jadi, so far so good, so far on the track,” ujar Arief.

Dialog Awal Dengan Bursa Dan Tahapan Keputusan

Terkait rencana IPO, PAM Jaya telah melakukan dialog informal dengan Bursa Efek Indonesia. Pembahasan masih pada tahap awal dan proses akan dijalankan secara prudent dengan mempertimbangkan kondisi pasar yang masih volatil.

Manajemen akan menyusun executive summary yang menggambarkan kesiapan infrastruktur perusahaan. Selanjutnya, keputusan apakah IPO akan dipilih akan diputuskan melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

Dengan progres yang dicapai, jika seluruh proses berjalan kondusif, IPO diharapkan terealisasi pada awal 2027. Namun Arief menegaskan manajemen hanya menyiapkan persyaratan, sedangkan keputusan go atau not go ada pada pemegang saham.

Opsi Pendanaan Lain

Selain opsi IPO, PAM Jaya masih mendalami berbagai alternatif pendanaan, termasuk kerja sama dengan mitra strategis, pemanfaatan pasar sekunder, maupun penerbitan obligasi (bonds). Seluruh opsi masih dievaluasi sebelum diputuskan.

Arief mengatakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebagai pemegang saham pengendali mendorong BUMD agar lebih mandiri dalam mencari sumber pendanaan. Perusahaan diminta mengembangkan skema creative financing sehingga tidak lagi bergantung pada pendanaan pemerintah.

“Pesan (menjajaki IPO) itu datang langsung dari Pak Gubernur, yang melihat potensi market yang bisa dijajaki. Di sisi lain memang ada tantangan pendanaan, sehingga BUMD diminta menjadi lebih independen. Dalam prosesnya kami menilai dan menjajaki semua opsi, termasuk pendanaan lewat pasar modal,” ujar Arief.

Fokus Perbaikan Fundamental dan Target Investasi

Di tengah volatilitas pasar, PAM Jaya memilih fokus memperkuat fundamental dan memperbaiki operasional sambil menunggu momentum yang tepat untuk menghimpun dana dari pasar modal.

Manajemen menilai kepercayaan investor terhadap perusahaan cukup baik. Saat ini perseroan memiliki strategic partner dan skema public-private partnership berjalan, menunjukkan minat investasi pada bisnis pelayanan air jangka panjang.

Arief menjelaskan dana yang dihimpun nantinya tidak hanya untuk pengembangan jaringan perpipaan, tetapi juga rehabilitasi pipa yang menua, penurunan tingkat non-revenue water, investasi teknologi, hingga pengembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk meningkatkan kualitas pelayanan.

Ia memperkirakan kebutuhan investasi untuk rehabilitasi jaringan pipa di Jakarta mencapai sekitar Rp7-9 triliun. Setelah target pelayanan air bersih Jakarta tercapai pada 2029, PAM Jaya membuka peluang memberikan dukungan kepada PDAM lain di sekitar Jakarta.

Menurut Arief, potensi BUMD Jakarta besar jika aset yang diberikan pemerintah dapat dioptimalkan. Transformasi sejak pengambilalihan pengelolaan operasional pada 2023 disebut menunjukkan perkembangan positif dan membuka peluang baru untuk mengakses pendanaan pasar modal.

“Kami melihat beberapa potential investing yang memang bisa dipertahankan. Mudah-mudahan investor melihat ini sebagai sesuatu yang menarik, yang kemudian bisa kami gunakan untuk funding, baik melalui IPO maupun strategic partner,” kata Arief.