Dewan Energi Nasional (DEN) memperingatkan bahwa keandalan pasokan listrik menjadi faktor krusial bagi daya saing investasi di Indonesia, khususnya untuk industri digital seperti pusat data. Mereka menyoroti risiko investor enggan menanamkan modal jika pemadaman listrik berulang tidak tertangani.

Anggota DEN Satya Widya Yudha menyatakan kebutuhan pusat data terhadap pasokan listrik berskala besar dan stabil sangat tinggi. “Salah satu requirement dari mereka itu adalah keandalan. Data center itu memerlukan daya yang besar. Mereka bisa tidak investasi di Indonesia jika masalah ini tidak di-manajemen,” kata Satya.

Dampak Pada Investasi Dan UMKM

Menurut Satya, keandalan sistem kelistrikan dapat diukur lewat dua indikator utama: System Average Interruption Duration Index (SAIDI) atau rata-rata durasi pemadaman, serta System Average Interruption Frequency Index (SAIFI) atau rata-rata frekuensi pemadaman. Data menunjukkan durasi pemadaman membaik menjadi rata-rata 0,77 jam per tahun pada 2025, namun frekuensi gangguan meningkat dari enam kali pada 2024 menjadi 7,45 kali pada 2025.

Perbaikan kedua indikator itu dinilai penting untuk mempertahankan daya saing investasi dibanding negara tetangga. Satya juga menekankan dampak langsung pemadaman terhadap aktivitas ekonomi masyarakat, terutama pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

DEN mendorong PT PLN (Persero) untuk memberikan informasi yang lebih transparan mengenai durasi dan frekuensi pemadaman agar pelaku usaha dapat menyiapkan langkah antisipasi. “Misalkan blackout-nya 15 menit, bagi mereka yang berusaha di restoran, di UMKM, dia bisa membayangkan sampai sejauh mana harus menyiapkan (kontingensi),” ujar Satya.

Satya menyebutkan sektor usaha seperti restoran, kedai makanan, penginapan, dan perhotelan sangat bergantung pada pasokan listrik yang stabil. Pemadaman tanpa kepastian jadwal berpotensi menurunkan kualitas layanan dan merugikan pelaku usaha.

Percepatan Energi Baru Dan Terbarukan

Selain itu, DEN menyoroti ketergantungan pada energi fosil seperti batu bara dan gas yang dinilai meningkatkan risiko ketahanan energi seiring menurunnya cadangan energi primer di masa mendatang. Untuk menjaga keandalan pasokan listrik jangka panjang, DEN mendorong percepatan pengembangan energi baru dan terbarukan, termasuk pembangkit listrik tenaga nuklir.

“Kita sudah memasukkan pembangkit listrik tenaga nuklir ke dalam kebijakan energi nasional. Di samping alternatif lain seperti memaksimalkan geotermal,” kata Satya.

Satya menambahkan potensi panas bumi (geothermal) Indonesia sekitar 24 gigawatt (GW), namun yang telah dimanfaatkan baru sekitar 3 GW. Optimalisasi sumber energi domestik tersebut dinilai penting untuk memperkuat kemandirian energi sekaligus memastikan keberlanjutan pasokan listrik nasional.