Koordinator Gerakan Indonesia Cerah (GIC) Febri Wahyuni Sabran menyatakan kepercayaan masyarakat terhadap Kepolisian Negara Republik Indonesia menjadi aset tak ternilai bagi pemerintahan yang sedang membangun fondasi publik.
Pernyataan itu disampaikan menyusul hasil survei yang menunjukkan tingkat kepercayaan publik kepada Polri sebesar 82,4 persen, sementara 80,6 persen responden menilai kinerja kepolisian meningkat.
Polri Sebagai Perekat Sosial
Menurut Febri, kepolisian yang dipandang positif oleh mayoritas publik dapat berfungsi sebagai perekat sosial, terutama di tengah dinamika politik yang kerap menimbulkan ketegangan dan perbedaan tajam antar kelompok.
Ihram.co.id — “Kepolisian yang dipandang positif oleh mayoritas publik dapat menjadi perekat sosial efektif, terutama di tengah dinamika politik yang kerap diwarnai ketegangan dan perbedaan pendapat tajam antara pemerintah dan kelompok-kelompok kritis di masyarakat,”
Ia menambahkan bahwa peningkatan kepercayaan publik harus dijaga, diperkuat, dan dikonsolidasikan karena berperan sebagai jembatan antara institusi keamanan negara dengan masyarakat yang dilayaninya.
Legitimasi dan Reformasi
Febri menilai perbaikan kinerja Polri merupakan sinyal positif dan bukti proses reformasi internal yang dirasakan publik.
“Legitimasi ini bukan sesuatu yang dapat diperoleh secara instan, melainkan hasil dari proses reformasi yang konsisten, terukur, dan dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat di berbagai lapisan,”
Dia menyebut tingginya angka kepercayaan memberi legitimasi sosial bagi institusi kepolisian dalam menjalankan fungsinya. Hal ini, menurutnya, membuka peluang penguatan kerja sama antara kepolisian dan masyarakat dalam menjaga ketertiban serta keamanan secara menyeluruh.
Peran Kapolri dan Konsep PRESISI
Febri menyatakan Polri di bawah kepemimpinan Kapolri Listyo Sigit berperan sebagai tulang punggung dalam menjaga stabilitas masyarakat dan negara.
“Polri di bawah kepemimpinan Kapolri Listyo Sigit merupakan tulang punggung dalam menjaga stabilitas masyarakat dan negara,”
Ia memaparkan bahwa konsep PRESISI (Prediktif, Responsibilitas, dan Transparansi Berkeadilan) menjadi cetak biru reformasi internal yang bertujuan mentransformasi Polri menjadi institusi yang lebih proaktif, transparan, dan menegakkan keadilan substansial.
“Capaian survei Litbang Kompas menjadi validasi empiris bahwa konsep ini tidak hanya berdiam di tataran gagasan, tetapi telah menghasilkan perubahan yang dirasakan nyata oleh masyarakat luas,”
Febri menegaskan ketika kepercayaan publik terbentuk melalui reformasi nyata, potensi kerja sama antara kepolisian dan masyarakat untuk menjaga stabilitas nasional menjadi lebih besar dan lebih bermakna bagi semua pihak.
Ikuti Ihram.co.id
