Duta Besar Republik Indonesia untuk Kolombia, Tatang Razak, hadir sebagai pengamat internasional dalam putaran kedua Pemilihan Presiden Kolombia. Kehadiran Tatang merupakan undangan resmi dari otoritas pemilu setempat.
Menurut siaran pers Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Bogota yang diterima di Jakarta pada Senin (22/6/2026), Tatang tercatat sebagai satu-satunya pengamat dari kawasan Asia yang diundang secara resmi oleh Consejo Nacional Electoral (CNE) Kolombia, bersama perwakilan dari 20 negara lain.
Pengamatan Di Lapangan
Tatang melakukan pemantauan di beberapa lokasi strategis. Dia menyaksikan langsung proses pemungutan suara putaran pertama di Kota Medellin, lalu melanjutkan pengawasan pada putaran kedua di Ibu Kota Bogota.
Setelah penutupan Tempat Pemungutan Suara pada Sabtu (20/6/2026) pukul 16.00 waktu setempat, Tatang bersama pengamat internasional lainnya mengawal proses penghitungan suara di pusat komando pemilu.
Berlangsung Kondusif Meski Polarisasi
Meski terdapat kekhawatiran akan potensi kerusuhan akibat polarisasi politik yang kuat serta riwayat kekerasan terhadap sejumlah jurnalis dan kandidat sebelum pemilu, proses pemungutan suara dilaporkan berlangsung lancar tanpa insiden serius.
Hasil Hitung Cepat
Berdasarkan hasil hitung cepat (quick count) dari seluruh suara yang masuk, persaingan ketat terjadi antara dua kubu utama. Rinciannya sebagai berikut:
- Abelardo de la Espriella (kubu kanan): 12.950.642 suara (49,65%)
- Ivan Cepeda (kubu kiri, didukung Presiden Gustavo Petro): 12.702.592 suara (48,70%)
Saat ini Abelardo de la Espriella unggul tipis. Komisi Pemilihan Umum Kolombia dijadwalkan mengumumkan hasil resmi dalam waktu sepekan ke depan.
Kontestasi dan Agenda Politik
Pilpres Kolombia menggunakan sistem dua putaran apabila tidak ada kandidat yang meraih mayoritas mutlak di putaran pertama. Pilpres kali ini menjadi sorotan karena menggambarkan pembelahan ideologi antara kubu kanan konservatif dan kubu kiri progresif.
Ivan Cepeda, yang disokong oleh Presiden Gustavo Petro, membawa agenda melanjutkan reformasi sosial dan agraria. Sementara Abelardo de la Espriella dari kubu kanan menawarkan fokus pada penguatan keamanan, pertumbuhan ekonomi berbasis pasar, serta evaluasi kebijakan pemerintahan sebelumnya.
Kehadiran pengamat internasional, termasuk Dubes Tatang, dianggap penting untuk memastikan transparansi proses pemilu di tengah ketegangan politik.
Ikuti Ihram.co.id
