Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate) total 100 basis poin sejak Mei 2026 dengan tujuan menstabilkan nilai tukar rupiah. Langkah itu dianggap efektif meredam pelemahan mata uang, namun para ekonom memperingatkan dampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi bila suku bunga tinggi dipertahankan terlalu lama.

Kenaikan dimulai pada Mei sebesar 50 basis poin dari 4,75% menjadi 5,25%, lalu bertambah 25 basis poin dalam RDG mingguan 9 Juni menjadi 5,5%, dan kembali 25 basis poin pada RDG bulanan 17-18 Juni sehingga mencapai 5,75%.

Imbas Jangka Pendek

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan kenaikan suku bunga bertujuan menjaga stabilitas rupiah, namun memiliki “harga mahal” bagi pertumbuhan. Di sisi permintaan, biaya pinjaman naik sehingga belanja rumah tangga besar tertunda dan dunia usaha cenderung menunda pengambilan kredit baru.

Josua mencatat kredit perbankan pada Mei 2026 masih tumbuh 11,51% year-on-year dengan penopang kredit investasi 21,95%, modal kerja 8,09%, dan konsumsi 5,89%. Namun suku bunga kredit baru naik dari 8,95% pada April menjadi 9,31% pada Mei. “Tekanan ke pertumbuhan kemungkinan lebih terasa pada semester berikutnya,” ujar Josua.

Risiko Jika Bunga Tinggi Bertahan

Menurut Josua, apabila suku bunga tinggi berlangsung lama maka biaya modal meningkat, investasi produktif tertunda, kredit baru melambat, dan dunia usaha memilih bertahan daripada berekspansi. “Kebijakan suku bunga saat ini sebaiknya dibaca sebagai obat stabilisasi, bukan sebagai arah permanen kebijakan ekonomi,” tegasnya.

Dia menekankan stabilisasi rupiah perlu diimbangi instrumen lain, termasuk intervensi valuta asing, menjaga daya tarik SRBI, insentif lindung nilai bagi investor asing, dan menjaga kecukupan likuiditas melalui lelang repo. “Pendekatan ini tepat karena menahan tekanan rupiah sambil tetap menjaga agar likuiditas tidak terlalu kering,” kata Josua.

Pandangan Pemerintah dan Akademisi

Sekretaris Kemenko Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso menilai kenaikan 25 basis poin pada RDG Juni sudah tepat. Ia mencatat rupiah mulai pulih di kisaran Rp17.700-17.800 per dolar AS dan IHSG tetap di atas 6.000. “Saya kira BI sudah mempertimbangkan semuanya dan alhamdulillah hasilnya kan juga cukup baik,” ujarnya.

Di kalangan akademisi, ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi menyatakan kenaikan sampai 100 basis poin memberi dampak ganda. Dalam jangka pendek suku bunga menahan tekanan rupiah dan inflasi impor, tetapi juga menaikkan biaya kredit serta menekan konsumsi dan investasi.

Syafruddin menekankan perlu ada kebijakan pendamping dari pemerintah: penguatan kredibilitas fiskal, perlindungan daya beli kelompok rentan, dukungan kredit produktif, percepatan pengurangan impor energi, dan perluasan basis pajak yang adil. “Dengan paket ini, kenaikan BI-Rate tidak hanya menjadi rem moneter, tetapi juga menjadi bagian dari strategi stabilisasi yang menjaga pertumbuhan, lapangan kerja, dan kepercayaan publik,” ujarnya.

Tekanan Global dan Koordinasi Kebijakan

Chief Economist IBC Denni Purbasari mengatakan langkah BI dapat dipahami di tengah tekanan global, termasuk kebijakan suku bunga bank sentral besar. Namun ia mengingatkan stabilitas tidak cukup ditopang oleh suku bunga saja.

Denni menyoroti perlunya disiplin fiskal, penguatan ruang fiskal, dan koordinasi kebijakan antara pemerintah, BI, dan OJK agar pembiayaan ke sektor produktif tetap berjalan dan sistem keuangan sehat. “Koordinasi antara pemerintah, BI, dan OJK menjadi sangat penting agar stabilitas keuangan tetap terjaga tanpa menekan pertumbuhan terlalu dalam,” pungkasnya.