Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat lonjakan pada penutupan perdagangan Senin (15/6/2026), naik 4,12% ke level 6.254,96. Pergerakan ini muncul setelah pasar saham domestik sempat mengalami tekanan dalam beberapa waktu terakhir.

Penguatan dinilai masih sangat dipengaruhi oleh faktor technical rebound, namun sejumlah indikator fundamental mulai menunjukkan arah yang lebih positif sehingga turut menopang kenaikan.

Head of Research and Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, mengatakan penguatan saat ini didominasi technical rebound, tetapi bukan tanpa dasar.

— “Penguatan yang terjadi saat ini masih didominasi oleh technical rebound. Namun, rebound tersebut bukan tanpa dasar,”

Rully menyebutkan beberapa faktor fundamental yang mulai membaik, antara lain sikap kebijakan moneter Bank Indonesia yang lebih tegas serta meredanya ketegangan geopolitik global. Kondisi ini membantu menstabilkan nilai tukar rupiah dan imbal hasil obligasi pemerintah.

Menurutnya, stabilisasi rupiah dan berkurangnya tekanan pada pasar obligasi menjadi sentimen positif bagi investor setelah sebelumnya pasar keuangan domestik dibayangi pelemahan mata uang, kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN), serta tingginya ketidakpastian global.

Kondisi tekanan tersebut sempat mendorong kenaikan premi risiko (risk premium) Indonesia yang menekan valuasi pasar saham. Seiring membaiknya indikator pasar keuangan, kepercayaan investor mulai pulih dan sentimen pasar bergerak positif.

Rully menekankan bahwa keberlanjutan penguatan IHSG ke depan sangat bergantung pada pergerakan rupiah dan yield obligasi pemerintah dalam beberapa waktu mendatang.

“Jika rupiah mampu bertahan menguat dan yield SBN tenor 10 tahun turun secara bertahap dari level puncaknya di atas 7,3% menuju kisaran yang lebih rendah, premi risiko Indonesia akan menurun. Kondisi tersebut akan membuka ruang bagi masuknya kembali aliran dana asing ke pasar obligasi maupun saham,”

Rully menambahkan, pasar akan terus mencermati perkembangan sentimen global dan arah kebijakan moneter. Meski demikian, tanda-tanda perbaikan yang mulai terlihat memberi harapan bahwa kepercayaan investor terhadap aset domestik perlahan kembali pulih.

Dengan menurunnya premi risiko dan stabilnya kondisi pasar keuangan, peluang berlanjutnya penguatan IHSG dinilai semakin terbuka, terutama jika aliran modal asing kembali masuk ke pasar Indonesia.