Organisasi Maritim Internasional (IMO) menghentikan sementara program evakuasi kapal dan pelaut yang terjebak di kawasan Teluk. Keputusan diambil menyusul hantaman proyektil terhadap sebuah kapal kontainer di perairan Teluk Oman.

Sekretaris Jenderal IMO Arsenio Dominguez menyatakan penangguhan bersifat sementara dan dimaksudkan untuk memastikan kembali terpenuhinya jaminan keselamatan bagi kapal-kapal yang masuk daftar evakuasi serta bagi seluruh pihak di kawasan tersebut.

Insiden dan Reaksi Internasional

Serangan mengenai kapal kontainer dekat pesisir Oman itu menimbulkan kecurigaan dari pihak Amerika Serikat. Seorang pejabat AS menyebut mereka sedang melakukan investigasi dan menegaskan, “Presiden Trump telah memperingatkan dengan jelas bahwa Iran tidak boleh mengganggu kelancaran lalu lintas pelayaran bebas di selat tersebut.”

IMO mengonfirmasi kapal yang menjadi korban berbendera Singapura dan dimiliki oleh perusahaan pelayaran Evergreen. Badan tersebut menyebut kapal itu tidak sedang berlayar di bawah program evakuasi resmi ketika insiden terjadi. Hingga kini, pihak Evergreen maupun pemerintah Singapura belum memberikan komentar resmi.

Rute Evakuasi dan Dampak Ketegangan

Program evakuasi yang diluncurkan IMO pada Selasa lalu bertujuan membantu ratusan kapal dan ribuan pelaut keluar dari kawasan Teluk. Rencana awal menyediakan dua jalur: rute utara yang melintasi perairan Iran dan rute selatan melalui perairan Oman di bawah pengawasan ketat Amerika Serikat.

Sebelumnya, pemilik kapal mulai berani melintasi Selat Hormuz setelah AS dan Iran menyepakati gencatan senjata sementara selama 60 hari. Data dari Lloyd’s List Intelligence menunjukkan ada 125 kapal yang melintasi selat dalam sepekan setelah gencatan senjata, angka mingguan tertinggi sejak perang dimulai.

Namun ketegangan kembali meningkat setelah militer Iran mengeluarkan peringatan yang melarang penggunaan rute selatan yang direkomendasikan IMO. Iran menegaskan rute transito baru di Selat Hormuz yang dibuat tanpa persetujuan mereka berbahaya dan tidak dapat diterima. Akibatnya, setidaknya dua kapal dilaporkan terpaksa memutar balik saat mencoba keluar dari Teluk melalui rute selatan dekat pesisir Oman.

Risiko bagi Perekonomian Global

Selat Hormuz menjadi jalur penting bagi pasokan energi dunia, di mana hampir seperlima pasokan minyak global melintasinya setiap hari. Konflik bersenjata yang pecah sejak akhir Februari 2026 sempat melumpuhkan jalur pelayaran ini, memicu krisis logistik dan kenaikan harga energi.

Upaya diplomatik sempat menghasilkan kesepakatan damai sementara antara AS dan Iran, yang menjadi dasar inisiatif IMO untuk mengevakuasi pelaut yang terjebak dalam zona konflik. Namun serangan terbaru terhadap kapal Evergreen serta penolakan Iran terhadap rute evakuasi selatan menyoroti kerentanan kesepakatan tersebut dan mengancam kelanjutan negosiasi perdamaian.