Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Mochamad Iriawan melakukan inspeksi operasional di Jawa Timur untuk memastikan kelancaran pasokan energi. Kunjungan mencakup Aviation Fuel Terminal (AFT) Juanda dan Integrated Terminal (IT) Surabaya pada Senin (29/6/2026).

Tujuan pemeriksaan adalah memastikan fasilitas strategis beroperasi andal, khususnya menjelang peningkatan mobilitas pada masa libur sekolah dan persiapan implementasi produk baru.

Fokus Pada Kesiapan Pasokan Avtur

Di AFT Juanda, Iriawan meninjau kesiapan pasokan avtur, kondisi fasilitas, dan layanan kepada maskapai. Ia menegaskan pentingnya tidak ada celah dalam penyediaan bahan bakar penerbangan agar kebutuhan masyarakat terpenuhi tanpa gangguan.

“Tugas menjaga pasokan avtur menuntut toleransi nol terhadap kekurangan stok maupun jeda pelayanan. Juanda harus menjadi salah satu garda terdepan dalam mendukung transformasi energi nasional,” kata Iriawan.

Detail Kapasitas dan Jaringan AFT Juanda

Dimas Bagus Satriyo Wibowo, perwakilan Aviation Fuel Terminal Juanda PT Pertamina Patra Niaga, menjelaskan AFT Juanda merupakan fasilitas strategis bagi sektor penerbangan di Jawa Timur. Terminal ini memiliki kapasitas 20.000 kiloliter, dilengkapi delapan tangki penyimpanan, tujuh hydrant dispenser, sembilan mobil tangki khusus pengisi avtur (refuller), serta didukung 49 operator.

AFT Juanda juga berfungsi sebagai titik suplai untuk lima AFT lain yang melayani bandara di Jawa Timur, yakni Iswahjudi (Madiun), Abdulrachman Saleh (Malang), Dhoho (Kediri), Notohadinegoro (Jember), dan Blimbingsari (Banyuwangi).

Integrated Terminal Surabaya dan Persiapan B50

Iriawan kemudian meninjau Integrated Terminal Surabaya, yang disebutnya sebagai salah satu terminal terintegrasi terbesar di Indonesia. Pada kunjungan itu, perhatian diarahkan pada kesiapan infrastruktur dan jaringan distribusi bahan bakar biosolar B50 yang dijadwalkan diluncurkan awal Juli 2026.

Selain itu, ia menekankan pentingnya pemeliharaan aset strategis seperti tangki timbun, jetty, dan jaringan pipa agar tetap prima sehingga distribusi energi bisa berjalan lancar dalam berbagai kondisi.

Penekanan Pada Keselamatan dan Budaya Kerja

Menutup kunjungan, Iriawan mengingatkan agar seluruh target operasional dan proses transformasi bisnis dilaksanakan dengan mengedepankan aspek Health, Safety, Security, and Environment (HSSE).

Ia menegaskan budaya Corporate Life Saving Rules (CLSR) harus menjadi bagian dari perilaku kerja setiap pegawai Pertamina untuk melindungi pekerja, masyarakat, dan aset negara.

“Budaya CSLR harus melekat dalam perilaku sehari-hari, untuk melindungi aset negara dan memastikan pekerja pulang dengan selamat,” tutup Iriawan.