Francisco Guterres, mantan Presiden Timor Leste yang dikenal dengan nama gerilyanya “Lu Olo”, meninggal dunia pada usia 71 tahun. Ia mengembuskan napas terakhir pada Minggu (21/6/2026) di Prince Court Medical Centre, Kuala Lumpur, setelah menjalani perawatan intensif.
Keluarga almarhum mengonfirmasi kabar duka melalui akun Facebook resmi mendiang. Hingga kini, penyebab kematian belum diumumkan kepada publik.
Masa Berkabung Nasional
Pemerintah Timor Leste menetapkan masa berkabung nasional selama tujuh hari sebagai penghormatan terakhir. Selama sepekan, bendera akan dikibarkan setengah tiang di seluruh gedung publik dan kantor perwakilan diplomatik Timor Leste di luar negeri.
Ucapan Duka dari Para Pemimpin
Ucapan belasungkawa mengalir dari berbagai pihak, termasuk Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim. “Sepanjang hidupnya, beliau tetap berkomitmen pada kebebasan rakyatnya dan pembangunan negara yang demokratis,” ujar Anwar saat menyampaikan rasa duka kepada keluarga mendiang dan rakyat Timor Leste.
Fretilin, partai yang dipimpin Guterres selama bertahun-tahun, menyatakan kepergian tokoh itu merupakan kehilangan mendalam bagi mereka yang memperjuangkan negara yang bebas, demokratis, dan berdaulat. Partai mengenang dirinya sebagai figur yang mengedepankan persatuan, dialog, perdamaian, dan stabilitas politik.
Perjalanan Hidup Dan Karier Politik
Lahir pada 7 September 1954 di Ossu, Distrik Viqueque (saat itu bagian dari Timor Portugis), Francisco Guterres menonjol sebagai komandan gerilya selama perlawanan antara 1975 dan 1999. Ia kemudian memainkan peran penting dalam transisi menuju kemerdekaan setelah referendum yang difasilitasi PBB pada 1999.
Setelah kemerdekaan, karier politik Guterres terus berkembang. Pada 2001 ia menjabat Ketua Majelis Konstituante yang mengawasi perumusan undang-undang dasar negara. Pada 2002 ia menjadi Ketua Parlemen Nasional pertama pascakemerdekaan.
Puncak perjalanan politiknya terjadi pada 2017 ketika ia terpilih sebagai Presiden Timor Leste, jabatan yang dijalani hingga 2022. Masa jabatannya berakhir setelah kalah dalam pemilu ulang dari Jose Ramos-Horta.
Warisan dan Keluarga
Francisco Guterres dikenang sebagai tokoh sentral dalam perjuangan kemerdekaan Timor Leste dan sosok yang lama memimpin Fretilin. Ia meninggalkan seorang istri, Cidalia Lopes Nobre Mouzinho Guterres, serta anak-anak mereka.
“Sepanjang hidupnya, beliau tetap berkomitmen pada kebebasan rakyatnya dan pembangunan negara yang demokratis,” — Anwar Ibrahim
Ikuti Ihram.co.id
