Pemerintah menargetkan persoalan pengelolaan sampah nasional dapat selesai dalam dua tahun ke depan, atau pada 2028. Langkah-langkah konkret mulai dijalankan dan hasilnya diharapkan sudah terlihat dalam beberapa bulan mendatang.

Target itu disampaikan Menteri Lingkungan Hidup Mohammad Jumhur Hidayat saat menjadi pembicara utama dalam forum bertema “Green is the New Growth: Orkestrasi Pengelolaan Lingkungan dan Pembiayaan Hijau untuk Pembangunan” di Jakarta, Selasa (30/6/2026).

“Beberapa bulan ke depan sudah akan tampak langkah-langkah mengelola sampah dengan baik. Bahkan dalam dua tahun harus ada 100% tuntas soal sampah,” kata Jumhur.

Penguatan Perdagangan Karbon

Selain pengelolaan sampah, Jumhur menekankan penguatan perdagangan karbon sebagai alat pengendalian perubahan iklim. Ia menilai masyarakat yang tinggal di kawasan penghasil jasa lingkungan harus menerima manfaat ekonomi langsung agar memiliki insentif menjaga kelestarian lingkungan.

Menurut Jumhur, semakin besar manfaat yang diterima masyarakat lokal maupun komunitas adat (indigenous people), semakin tinggi pula nilai kredit karbon Indonesia di pasar internasional. Keterlibatan masyarakat dalam menikmati manfaat ekonomi akan mendorong mereka menjaga kawasan penyerap emisi karbon secara berkelanjutan, ujarnya.

Sistem Registrasi Unit Karbon

Sebagai bagian dari penguatan tata kelola perdagangan karbon, Kementerian Lingkungan Hidup berencana meluncurkan Sistem Registrasi Unit Karbon (SRUK) pada 9 Juli 2026. Sistem tersebut akan terintegrasi dengan Bursa Karbon Indonesia di Bursa Efek Indonesia untuk menjamin proses registrasi dan perdagangan karbon berjalan transparan dan sesuai regulasi.

Forum dan Harapan Rekomendasi

Forum yang menjadi ajang penyampaian pernyataan itu diselenggarakan dalam rangkaian peringatan 25 tahun penyelenggaraan media ekonomi. Komisaris Utama B-Universe Enggartiasto Lukita mengatakan acara ini menjadi ruang diskusi untuk menghimpun gagasan dan solusi atas isu strategis nasional, termasuk pengelolaan lingkungan dan pembiayaan hijau.

“Hari ini kita akan membahas bagaimana orkestrasi pengelolaan lingkungan dan pembiayaan hijau untuk pembangunan. Karena green is the new growth,” kata Enggartiasto.

Enggartiasto menyatakan tantangan sektor lingkungan semakin kompleks, mulai dari pengelolaan sampah, perubahan iklim, ekonomi hijau, hingga perdagangan karbon. Ia berharap diskusi menghasilkan rekomendasi yang bermanfaat bagi pembangunan nasional dan memperkuat kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, serta pemangku kepentingan.

Data Timbulan Sampah

Data kementerian menunjukkan timbulan sampah nasional pada 2025 mencapai 23,84 juta ton per tahun. Dari jumlah itu, baru 34,7% yang terkelola, capaian yang menurut catatan masih jauh di bawah target RPJMN.