Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat mengatakan peluang pengembangan bisnis pengolahan sampah menjadi energi masih sangat besar di Indonesia. Saat ini proyek pengolahan sampah menjadi listrik yang dikembangkan pemerintah baru menjangkau puluhan daerah, sementara ratusan kabupaten/kota lainnya belum tersentuh.
Pernyataan itu disampaikan Jumhur pada sesi Investor Daily Roundtable bertajuk “Green is the New Growth: Orkestrasi Pengelolaan Lingkungan dan Pembiayaan Hijau untuk Pembangunan” di Main Hall Bursa Efek Indonesia, Selasa (30/6/2026).
Sebagian Kecil Sudah Tercover
Jumhur menyebut proyek waste to electricity yang digarap pemerintah bersama berbagai pihak saat ini baru meliputi sekitar 34 kawasan aglomerasi atau kurang lebih 70 kabupaten/kota.
“Itu meng-cover kira-kira 34 aglomerasi, sekitar 70-an kabupaten kota. Sementara itu, kita masih punya sekitar 480 kabupaten kota yang belum tersentuh oleh proyek waste to electricity,”
Menurutnya, angka itu menunjukkan masih banyak peluang untuk memperluas pengelolaan sampah berbasis energi.
Lebih Dari Sekadar Listrik
Jumhur menegaskan pemanfaatan sampah tidak terbatas pada pembangkitan listrik. Berbagai teknologi bisa diimplementasikan untuk mengolah sampah menjadi produk energi bernilai ekonomi.
Ia merinci beberapa alternatif yang dimaksud, antara lain refuse-derived fuel (RDF), biomassa, bahan bakar setara solar, serta pelet energi untuk kebutuhan co-firing di pembangkit listrik.
“Waste to energy itu banyak sekali. Dari sampah menjadi RDF, dari sampah menjadi solar, dari sampah menjadi biomassa, dari sampah menjadi pelet-pelet untuk co-firing dan sebagainya. Itu semua adalah energi,”
Permintaan Dari Pembeli Potensial
Jumhur menyatakan kementerian telah berkomunikasi dengan PT PLN (Persero) dan pelaku industri terkait produk energi hasil pengolahan sampah. Dari komunikasi itu, muncul komitmen calon pembeli selama produk memenuhi standar kualitas yang disyaratkan.
“Kita sudah berkomunikasi dengan PLN dan pihak industri. Mereka meminta kami menyiapkan berbagai hasil pengolahan sampah yang bisa menjadi energi dan siap untuk dibeli,”
Ia menilai ketersediaan pasar tersebut membuka peluang investasi luas di sektor pengelolaan sampah, sekaligus menciptakan lapangan kerja hijau dan mendukung pengurangan pencemaran lingkungan.
“Potensi bisnisnya masih sangat besar karena masih ada ratusan kabupaten dan kota yang bisa dikembangkan. Ini juga akan menciptakan green jobs dan menghasilkan pengelolaan lingkungan yang lebih bersih,”
Waktu Pembangunan dan Implementasi Teknologi
Menurut Jumhur, pembangunan fasilitas waste to electricity umumnya memerlukan waktu sekitar 1,5 sampai 2 tahun. Namun ia menekankan, teknologi pengolahan sampah lain dapat mulai diterapkan lebih cepat tanpa menunggu pembangkit listrik selesai.
“Banyak hal yang bisa dimulai sekarang. Tidak harus menunggu fasilitas waste to electricity selesai dibangun,”
Data Kementerian Lingkungan Hidup yang disampaikan pada acara itu menunjukkan timbulan sampah nasional pada 2025 mencapai 23,84 juta ton per tahun, namun baru sekitar 34,7% yang terkelola.
Ikuti Ihram.co.id
