Pemadaman bergilir di Jawa dan pemadaman massal (blackout) yang sempat terjadi di Sumatra membuka isu mendasar: kerentanan sistem jaringan ketenagalistrikan nasional. Pemerintah meminta PLN melakukan evaluasi menyeluruh agar peristiwa serupa tidak terulang.
Gangguan tersebut menyoroti ketergantungan pada jalur transmisi utama panjang dan soal keandalan distribusi serta manajemen beban puncak. Ketika satu titik terganggu, efeknya dapat meluas ke beberapa provinsi sekaligus.
Penyebab Dan Dampak
Menurut pengamatan para ahli, sistem nasional masih bergantung pada jalur transmisi yang rentan. Di Sumatra, gangguan pada satu titik menimbulkan efek domino yang melumpuhkan beberapa wilayah. Di Jawa, masalah lebih pada keandalan distribusi dan fluktuasi beban puncak yang tidak tersikapi secara optimal oleh manajemen risiko PLN.
“Pemadaman di Jawa dan Sumatra adalah alarm keras bahwa sistem kelistrikan nasional butuh reformasi,” kata Ketua Umum Indonesia Center for Renewable Energy Studies (ICRES) Surya Darma.
Surya memaparkan pemadaman mendorong penggunaan genset diesel sebagai solusi darurat yang mahal. Dengan harga bahan bakar tinggi, biaya per kWh dari genset bisa berkali-kali lipat dibandingkan tarif PLN, sehingga menekan margin pelaku usaha dan berpotensi memicu kerugian langsung atau kenaikan harga produk.
Ia menambahkan pemadaman sangat dirasakan UMKM, sementara industri besar rawan mengalami kerusakan peralatan dan downtime akibat voltage dip singkat.
Peran Energi Terbarukan Dan Teknologi
Surya menekankan bahwa pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) bukan solusi instan untuk masalah transmisi. Agar PLTS dapat memasok secara stabil 24 jam, diperlukan Battery Energy Storage System (BESS), yang saat ini masih mahal dan menambah beban investasi.
“PLN harus berinvestasi besar-besaran pada smart grid yang mampu mengelola fluktuasi pasokan dari energi terbarukan secara otomatis,” ujarnya. Dengan jaringan transmisi cerdas, masuknya daya dari PLTS bisa memperkuat dukungan regional ketika jalur utama terganggu.
Surya menyatakan bahwa penyesuaian teknologi smart grid, penurunan harga baterai, dan regulasi yang mendorong investasi dapat mengubah PLTS dari sekadar alternatif menjadi komponen pertahanan yang melindungi margin usaha dari ketidakpastian pasokan listrik.
Respons Pemerintah Dan PLN
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia meminta PLN segera mengambil langkah mitigasi terukur dan komprehensif agar pemadaman serupa tidak terjadi lagi. Ia menegaskan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap sistem operasional dan memastikan seluruh proses berjalan optimal.
“Saya minta PLN untuk segera melakukan langkah-langkah yang terukur, komprensif untuk memberikan kenyamanan bagi pelanggan dengan tidak ada lagi pemadaman. Dengan kata lain segera atasi masalah teknis ini, karena masalah teknis semuanya ini kewenangan dan kendalinya memang ada di PLN,”
Bahlil juga membantah anggapan bahwa pemadaman disebabkan oleh kekurangan pasokan bahan bakar di pembangkit. Ia menjelaskan kebutuhan batu bara PLN telah diantisipasi melalui penugasan kepada perusahaan-perusahaan batu bara nasional dan menyebut aspek teknis distribusi bahan bakar ke pembangkit merupakan urusan manajemen logistik PLN.
Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menyatakan pihaknya mempercepat langkah pengamanan keandalan sistem, khususnya di Pulau Jawa, melalui percepatan pemulihan pembangkit yang mengalami gangguan operasional serta penguatan rantai pasok energi primer.
“Kami mengerahkan seluruh sumber daya terbaik PLN bersama mitra IPP agar proses perbaikan dapat berjalan cepat dan lancar, sehingga pembangkit dapat segera kembali beroperasi dan memperkuat pasokan listrik di sistem Jawa,”
PLN juga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas dampak yang timbul, termasuk adanya manajemen beban di beberapa wilayah. Perusahaan menyatakan terus bekerja bersama mitra untuk mempercepat pemulihan dan memastikan keandalan pasokan listrik kembali optimal.
Ikuti Ihram.co.id
