Jutaan barel minyak mentah dilaporkan tetap melintasi Selat Hormuz sepanjang akhir pekan meski Iran mengklaim telah menutup jalur perairan itu. Pergerakan kapal-tankers tersebut bertentangan dengan klaim penutupan sepihak yang dikeluarkan Teheran dan memicu adu narasi antara Amerika Serikat dan Iran.
Data pelayaran menunjukkan setidaknya lima supertanker bermuatan penuh dengan total kapasitas sekitar 8 juta barel memasuki dan melintasi Selat Hormuz pada akhir pekan lalu. Beberapa kapal memilih rute selatan menyisir pesisir Oman dan sempat mematikan sistem pelacakan otomatis mereka.
Detail Pergerakan Tanker Di Rute Oman Dan Iran
Menurut data pelayaran komersial, beberapa kapal besar tercatat mengambil rute selatan melalui Teluk Oman. Contohnya, kapal Gulf Sunrise—mengangkut sekitar 2 juta barel minyak Arab Saudi menuju Jepang—terpantau menyeberangi Teluk Oman setelah sempat hilang dari radar di puncak selat pada Sabtu.
Kapal lain yang melintasi rute selatan termasuk Angola B, Monaco Loyalty, dan dua Suezmax, Nordic Cross dan Nordic Pollux, yang terdeteksi menyisir wilayah Musandam, eksklave Oman. Beberapa kapal bahkan kembali mengaktifkan sinyal mereka setelah mencapai perairan Teluk Oman dengan selamat.
Sementara itu, beberapa kapal juga memancarkan sinyal di dekat garis pantai Iran. Kapal Desh Vibhor, Desh Vaibhav, dan Sanmar Herald—yang membawa total sekitar 6 juta barel minyak dari Irak dan Kuwait—terpantau melintas dekat Pulau Qeshm milik Iran tak lama sebelum pengumuman penutupan resmi Teheran pada Jumat malam.
Laporan Resmi Dan Panduan Navigasi
Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan sebanyak 17 juta barel minyak berhasil melewati Selat Hormuz, dan menepis laporan mengenai penutupan total perdagangan di kawasan tersebut. Lembaga penghubung angkatan laut dan pelayaran (JMIC) mengeluarkan panduan resmi yang memperbolehkan kapal dagang melintas di zona Oman dengan syarat menyalakan radar dan lampu navigasi.
Ihram.co.id — “Para pelaut disarankan tetap dapat transit di rute selatan baik siang maupun malam hari dengan tetap menyalakan AIS (Sistem Identifikasi Otomatis), radar, lampu navigasi, dan komunikasi radio VHF normal,” tulis JMIC dalam pernyataannya.
Lanskap Keamanan Di Perairan
Meski pihak Barat menilai rute selatan relatif aman, risiko navigasi tetap ada. Otoritas maritim Pakistan sempat mengeluarkan peringatan darurat terkait penemuan ranjau laut aktif sepanjang rute selatan pada Jumat malam.
Selain kapal-kapal berbobot muatan penuh, sejumlah tanker kosong dan kapal pengangkut LNG juga terlihat memasuki Teluk Persia via pesisir Oman. Beberapa produsen minyak diketahui memindahkan muatan melalui kapal penukar di perairan aman dan sebagian kapal sengaja mematikan sinyal pelacak otomatis untuk menghindari perhatian global.
Implikasi Perdagangan Energi
Selat Hormuz merupakan jalur penting bagi aliran energi dunia. Jalur sempit yang memisahkan Iran dan Oman ini menjadi rute bagi sekitar seperlima konsumsi minyak global, atau diperkirakan sekitar 20 juta barel per hari, dari produsen besar Timur Tengah menuju pasar Asia, Eropa, dan Amerika.
Karena itu, gangguan di Selat Hormuz memiliki potensi dampak langsung terhadap harga energi global dan kestabilan pasokan dunia.
Latar Belakang Krisis
Krisis geopolitik yang memicu ketegangan ini berakar dari eskalasi militer sejak akhir Februari lalu, ketika serangkaian serangan udara melibatkan pasukan AS dan Israel ke wilayah Iran. Iran sempat memblokade Selat Hormuz hampir empat bulan, yang berdampak pada lonjakan harga minyak mentah global.
Walau sempat ada nota kesepahaman untuk memperpanjang gencatan senjata pekan lalu, situasi kembali memanas seiring berlanjutnya operasi militer Israel terhadap Hizbullah di Lebanon—yang mendapat dukungan Iran—dan pengumuman penutupan Selat Hormuz oleh Teheran.
Ikuti Ihram.co.id
