Pemerintah menyatakan tetap bersikap waspada meski ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran dilaporkan mereda, yang mendorong penurunan harga minyak dunia. Pemerintah memilih memantau perkembangan sebelum mengambil langkah kebijakan terkait energi dan fiskal.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan penyesuaian kebijakan belum akan dilakukan karena proses finalisasi kesepakatan damai masih berlangsung.
Proyeksi Harga Dan Sikap Hati-hati
“Ya pertama tentu kita monitor karena harga minyaknya akan turun lagi ke sekitar US$83, tetapi kan semua ini baru selesai sudah ditandatangani. Jadi sebelum ditandatangani kita tetap konservatif,” ujar Airlangga usai rapat Dewan Pengawas Danantara di Wisma Danantara, Jakarta, Senin (15/6/2026).
Airlangga menyebut pergerakan harga minyak menjadi perhatian karena berdampak pada kebijakan energi nasional, beban subsidi, serta kondisi fiskal negara.
Pergerakan Harga Minyak
Berdasarkan catatan Oilprice pada pukul 20.57 WIB, harga minyak mentah Brent tercatat sebesar US$83,08 per barel, turun 4,87%. Sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di level US$80,58 per barel, turun 5,07%.
Penurunan terjadi setelah kabar mengenai tercapainya kesepakatan damai antara AS dan Iran serta pembukaan kembali Selat Hormuz, yang selama ini menjadi salah satu faktor ketidakpastian di pasar energi global.
Isi Kesepakatan Dan Pernyataan Pemimpin AS
Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa kesepakatan dengan Iran telah tercapai dan berpotensi mengakhiri konflik antara kedua negara. “Kesepakatan dengan Republik Islam Iran kini telah selesai,” tulis Trump melalui platform yang dipakainya.
Trump juga menyatakan pencabutan blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran serta pembukaan kembali Selat Hormuz untuk pelayaran internasional. “Selamat kepada semuanya! Dengan ini saya sepenuhnya mengizinkan pembukaan Selat Hormuz tanpa biaya tol, dan, bersamaan dengan itu, mengizinkan pencabutan segera blokade Angkatan Laut Amerika Serikat,” ujarnya.
Dalam pernyataan terpisah, Trump menyebut kesepakatan itu dapat membawa stabilitas lebih besar bagi kawasan Timur Tengah. Kesepakatan itu disebut merupakan hasil negosiasi selama beberapa bulan dengan mediasi Pakistan dan dukungan sejumlah negara di kawasan. Penandatanganan resmi dijadwalkan berlangsung di Swiss pada 19 Juni 2026.
Ketidakpastian Tetap Ada
Meski sentimen pasar membaik, ketidakpastian geopolitik dinilai belum sepenuhnya hilang. Trump sebelumnya menyatakan AS bisa kembali mengambil langkah militer jika perundingan tidak mencapai hasil akhir yang disepakati kedua belah pihak.
Karena faktor itu, pemerintah Indonesia memilih mencermati perkembangan global lebih dulu sebelum melakukan penyesuaian kebijakan yang berkaitan dengan energi maupun fiskal.
Ikuti Ihram.co.id
