Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan awal untuk mengakhiri konflik yang berlangsung selama empat bulan. Kedua pihak menyepakati nota kesepahaman dan melakukan langkah de-eskalasi militer, meski dokumen akhir belum secara resmi ditandatangani.

Berita tentang penurunan ketegangan itu diikuti reaksi positif pasar global: indeks saham menguat, sementara harga minyak dan imbal hasil obligasi dilaporkan mengalami penurunan. Para pihak menjadwalkan penandatanganan final di Jenewa pada Jumat mendatang.

Presiden AS Donald Trump menyatakan kesepakatan mencakup pembukaan kembali jalur perdagangan strategis Selat Hormuz. Ia mengumumkan jalur itu akan dibuka tanpa pungutan biaya setelah penandatanganan dan menginstruksikan pencabutan blokade angkatan laut AS.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi mengatakan teks kesepakatan telah difinalisasi dan akan ditandatangani di Jenewa. “Gencatan senjata permanen dan segera telah dideklarasikan di semua lini,” ujarnya, namun status akhir perang masih bersifat tentatif karena kesepakatan awal hanya berlaku selama 60 hari.

Tantangan Yang Tersisa

Masa 60 hari yang disepakati berfungsi sebagai kerangka untuk negosiasi lebih lanjut, meliputi pembahasan program nuklir, sanksi ekonomi, dan isu keamanan regional. Meski ada optimisme, sejumlah kendala masih mengemuka:

  • Ketidakpastian posisi Israel: Israel, yang ikut terlibat dalam konflik sejak 28 Februari 2026, bukan pihak dalam kesepakatan ini. Menteri Pertahanan Israel menyatakan pasukan akan tetap berada di zona keamanan di Lebanon, Gaza, dan Suriah.
  • Tuntutan dana: Iran meminta pembebasan miliaran dolar aset yang dibekukan sebagai syarat negosiasi nuklir; tuntutan ini belum disetujui oleh AS.
  • Isu nuklir: Trump menegaskan Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir dan menyatakan kemungkinan tindakan lebih lanjut jika negosiasi mendatang menemui kebuntuan.

Ketegangan antara AS dan Iran memuncak dalam beberapa bulan terakhir akibat serangkaian insiden di perairan Teluk dan eskalasi retorika terkait program nuklir. Konflik memengaruhi lalu lintas di Selat Hormuz—jalur yang selama ini dilalui persentase signifikan pasokan minyak dunia—dan mengganggu rantai pasok energi global.

Kesepakatan yang difasilitasi oleh pihak internasional ini dipandang sebagai langkah untuk meredakan potensi krisis ekonomi global dan mencegah eskalasi menjadi perang terbuka yang lebih luas. Namun, berbagai masalah substantif masih harus diselesaikan dalam negosiasi lanjutan selama periode 60 hari tersebut.