Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan optimisme terkait meredanya ketegangan di Timur Tengah dan berharap Selat Hormuz dapat kembali dibuka penuh untuk pelayaran komersial mulai Jumat (19/6/2026).
Pernyataan itu disampaikan saat Trump bertemu Presiden Prancis Emmanuel Macron pada pertemuan G7 di Evian-les-Bains, Prancis, Selasa (16/6/2026). “Saya yakin banyak hal luar biasa akan terjadi di Timur Tengah. Kabar baiknya, harga minyak mulai turun signifikan dan pasar saham kembali bergairah,” ujar Trump.
Rencana Kesepakatan Awal
Trump mengatakan draf nota kesepahaman (MoU) dengan Iran akan dirilis setelah Jumat mendatang, ketika kedua pihak meresmikan perjanjian itu di Swiss. Wakil Presiden AS JD Vance dijadwalkan mewakili Amerika Serikat pada upacara tersebut.
Menurut pernyataan Trump, isi kesepakatan awal mencakup penghentian permusuhan, pembukaan kembali rute maritim, serta pencabutan blokade angkatan laut AS di pelabuhan Iran. Salah satu poin penting menyebut Selat Hormuz akan bebas dari pungutan biaya selama 60 hari.
Catatan Pejabat Senior AS
Meskipun Trump optimistis, pejabat senior AS memberi catatan bahwa normalisasi lalu lintas laut secara penuh mungkin memerlukan waktu lebih dari dua pekan.
AS juga menegaskan tidak akan melonggarkan sanksi terhadap Iran sebelum negara tersebut memenuhi seluruh kewajibannya, termasuk jaminan terkait program nuklir.
Negosiasi Teknis Dan Postur Militer
Setelah penandatanganan awal, kedua negara akan memasuki masa negosiasi teknis selama 60 hari. Pembahasan difokuskan pada nasib program nuklir Iran serta rincian operasional maritim lainnya.
Sementara itu, militer AS memutuskan tetap mempertahankan postur pasukan mereka di Timur Tengah selama proses berlangsung. “Kami telah mengerahkan banyak pasukan sejak Februari. Kami berharap dapat menguranginya, tetapi saat ini kami perlu memastikan Iran menepati janjinya,” kata salah satu pejabat AS.
Signifikansi Selat Hormuz
Pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi prioritas karena jalur ini menyumbang sekitar 20 persen pasokan minyak global. Penutupan selat itu sebelumnya memicu lonjakan harga energi dan kekhawatiran inflasi menjelang pemilihan paruh waktu di AS.
Selat Hormuz berada di antara Iran dan Oman dan menjadi rute utama ekspor minyak serta liquefied natural gas (LNG) dari negara-negara Teluk Persia menuju pasar global. Gangguan di jalur ini berpengaruh terhadap volatilitas harga energi dan kondisi ekonomi internasional.
Ikuti Ihram.co.id
