Transparansi dan tata kelola perusahaan yang kuat dinilai krusial untuk mengembalikan kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia di tengah tekanan yang masih membayangi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Pernyataan itu disampaikan Head of Online Trading Ciptadana Sekuritas Asia, Zabrina Raissa, saat menghadiri diskusi bertema Green is the New Growth di Main Hall Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (30/6/2026).
Fokus pada Kualitas Emiten
Menurut Zabrina, pasar modal tidak semata membutuhkan peningkatan jumlah perusahaan yang mencatatkan saham, melainkan peningkatan kualitas emiten dengan fundamental dan tata kelola yang baik.
“Jadi kita harapkan betul bahwa di tahun 2026 kita enggak harap banyak company yang melantai tapi lebih ke kualitasnya itu sendiri. Bagaimana si company bisa punya tata kelola yang baik dan tentunya juga dengan tata kelola yang baik akan beriringan juga dengan fundamental dari si company tersebut,” ujar Zabrina.
Tekanan pada IHSG dan Sorotan MSCI
Zabrina menilai kepercayaan investor merupakan faktor utama agar pasar modal tetap menarik bagi investor domestik dan asing. Ia mengakui semester pertama 2026 penuh tantangan setelah IHSG sempat mencatat rekor tertinggi pada Januari, lalu bergerak melemah dalam beberapa bulan berikutnya.
“Kita perlu apresiasi juga IHSG kita sempat menyentuh all time high di Januari 2026, tapi sekarang justru pelan-pelan semakin mengalami penurunan,” katanya.
Selain dinamika domestik, perhatian investor juga tertuju pada hasil evaluasi MSCI yang dijadwalkan diumumkan pada November. Zabrina menyebut pasar masih mencermati apakah status Indonesia sebagai emerging market akan dipertahankan.
“Yang dinanti-nanti adalah dari MSCI, dari kondisi global yang memang kemarin infonya kita masih dipertahankan di emerging market tapi di November akan ada info terbaru apakah kita benar-benar stay ataupun justru diturunkan ke frontier market,” ujar Zabrina.
Rupiah, Kinerja Emiten, dan Harapan Pemulihan
Zabrina juga menyebut pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sebagai perhatian investor. Meski demikian, ia optimistis pasar modal memiliki peluang untuk pulih sebagaimana pada masa krisis sebelumnya.
“Kita harapkan yang terbaiklah untuk IHSG, harapannya menjadi kembali rebound dan juga kepercayaan investor asing dan dalam negeri kembali ke Indonesia,” kata Zabrina.
Ia menambahkan isu transparansi masih menjadi salah satu fokus MSCI ketika mengevaluasi pasar modal Indonesia, yang menurutnya perlu perbaikan jika dibandingkan dengan beberapa negara tetangga di Asia Tenggara.
“Transparansi ini juga yang selalu digaung-gaungkan dari MSCI karena dengan kondisi tersebut juga jadi salah satu concern di mana kalau di-compare ke South East Asian lainnya, Indonesia ini transparansinya dianggap tidak lebih baik dibandingkan negara-negara tetangga lainnya,” ujarnya.
Zabrina memandang sejumlah perbaikan dari regulator dan pelaku pasar sudah berada di jalur yang tepat. Namun pasar masih menunggu katalis positif, antara lain penguatan USD/IDR dan kinerja keuangan sejumlah bank besar serta perusahaan lain, yang dapat menjadi growth catalyst bagi pemulihan pasar modal.
Ikuti Ihram.co.id
