Mark Zuckerberg menegaskan kebebasan untuk gagal merupakan salah satu kunci utama keberhasilan besar. Dalam pidato kelulusan di Universitas Harvard pada 2017, pendiri Meta Platforms itu memaparkan bahwa tanpa ruang untuk bereksperimen dan berbuat salah, inovasi akan sulit tumbuh.

Zuckerberg memberi contoh perjalanan beberapa tokoh terkenal untuk memperkuat pernyataannya. Ia menyebut J.K. Rowling dan Beyoncé sebagai contoh individu yang melalui serangkaian kegagalan sebelum mencapai puncak karier mereka.

Dalam pidatonya, Zuckerberg mengingat kembali perjuangan awalnya sebelum Facebook berhasil. Ia mengatakan pernah mengembangkan beragam proyek digital yang tidak berhasil di pasaran—mulai dari gim komputer, sistem obrolan, alat bantu belajar, hingga aplikasi pemutar musik—sebelum menemukan keberhasilan.

Pentingnya Ruang Untuk Mencoba

Menurut Zuckerberg, ekonomi modern mendorong masyarakat agar lebih berjiwa wirausaha, baik dalam mendirikan perusahaan, memulai proyek kreatif, maupun meniti karier nonkonvensional. Namun, budaya seperti itu hanya akan tumbuh jika ada jaminan finansial yang memadai bagi individu untuk mengambil risiko.

Ia menilai banyak orang terhalang oleh ketakutan bahwa satu kegagalan dapat menghancurkan kehidupan mereka, terutama jika tidak ada jaring pengaman finansial.

“Kesuksesan terbesar justru lahir ketika seseorang memiliki kebebasan dan ruang untuk mengalami kegagalan,”

Zuckerberg mencontohkan J.K. Rowling yang menurutnya ditolak oleh penerbit sebanyak 12 kali sebelum menerbitkan Harry Potter, serta menyebut bahwa Beyoncé harus menciptakan ratusan lagu sebelum menghasilkan karya hit seperti “Halo”.

Ketimpangan Ekonomi dan Peran Keberuntungan

Dalam pidato yang sama, ia mengkritik ketimpangan dalam sistem sosial yang memberi penghargaan besar kepada mereka yang sudah sukses, tetapi kurang menyediakan dukungan bagi orang pada tahap awal usaha.

“Ada yang salah dengan sistem kita ketika saya bisa keluar dari kampus ini dan menghasilkan miliaran dolar dalam waktu 10 tahun, sementara di sisi lain ada jutaan mahasiswa yang kesulitan melunasi pinjaman pendidikan mereka, apalagi untuk memulai sebuah bisnis,” ujarnya.

Zuckerberg menambahkan bahwa kesuksesan jangka panjang bukan hanya hasil kerja keras dan ide yang cemerlang, tetapi juga dipengaruhi faktor keberuntungan. Ia mengaku mungkin tidak akan bisa mendirikan Facebook jika harus menanggung beban finansial keluarga atau menghadapi konsekuensi hidup yang berat apabila proyeknya gagal di tahap awal.

Perjalanan Facebook dan Aktivitas Filantropi

Zuckerberg memulai Facebook pada 2004 saat berusia 19 tahun di kamar asramanya di Universitas Harvard. Platform yang awalnya ditujukan untuk mahasiswa itu berkembang pesat dan melantai di bursa pada 2012.

Pada 2021, perusahaan berubah nama menjadi Meta Platforms, Inc. sejalan dengan perluasan visi ke ranah virtual atau metaverse. Kekayaan bersih Zuckerberg tercatat mencapai 186,6 miliar dolar AS menurut data yang disebutkan dalam naskah sumber.

Selain menjalankan bisnis, Zuckerberg aktif di bidang kemanusiaan. Pada 2015 ia bersama istrinya, Priscilla Chan, mendirikan Chan Zuckerberg Initiative dan berkomitmen menyumbangkan 99% saham Meta mereka selama hidup untuk memajukan potensi manusia dan mempromosikan kesetaraan sosial.