Global Sustainable Development Congress (GSDC) 2026 digelar di Indonesia Convention Exhibition (ICE), Kabupaten Tangerang, pada 22–25 Juni 2026 dengan fokus mempercepat pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Kongres internasional ini mempertemukan sekitar 5.000 pemimpin dari perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, dan organisasi masyarakat sipil.
Forum lintas sektor tersebut diarahkan untuk menghasilkan pembahasan konkret terkait strategi, pembiayaan, riset, dan pengembangan talenta yang mendukung pencapaian 17 target SDGs Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Jaringan Akademik Dan Pengukuran Dampak
Salah satu agenda utama GSDC 2026 adalah pengumuman Times Higher Education Sustainability Impact Ratings, yang mengukur kontribusi institusi pendidikan tinggi terhadap target SDGs, termasuk pendidikan berkualitas, kesetaraan, inovasi, aksi iklim, kesehatan, dan kemitraan global.
Di sela acara juga diluncurkan Sustainability Impact Network, yang menghimpun lebih dari 1.600 universitas dari 116 negara. Jaringan ini ditujukan untuk memperkuat kolaborasi berbasis data dalam mendukung agenda pembangunan berkelanjutan.
Kata Penyelenggara
Phil Baty, Kepala Bidang Urusan Global Times Higher Education, menekankan bahwa pencapaian SDGs tidak dapat dicapai oleh satu sektor secara terpisah. Menurutnya, diperlukan kerja sama antara perguruan tinggi, pemerintah, pelaku usaha, dan organisasi masyarakat sipil.
“Keberlanjutan sejati tidak dapat dicapai oleh satu sektor saja secara terpisah, dan tidak dapat ditentukan semata-mata dari Global North. Dengan membawa kongres ini ke Asia Tenggara, kami menjembatani kesenjangan antara rencana strategis dan implementasi nyata di lapangan,”
Baty menilai Asia Tenggara memiliki posisi penting karena menghadapi kerentanan iklim sekaligus memiliki peluang mengembangkan solusi pembangunan berkelanjutan. Ia juga berharap Sustainability Impact Network memperkuat riset, data, dan praktik baik antaruniversitas.
Sinkronisasi Kebijakan Nasional
Dari sisi kebijakan nasional, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy dan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menyampaikan pandangan mengenai peran Indonesia dalam menyelaraskan agenda pembangunan nasional dengan target SDGs. Rachmat Pambudy diwakili oleh Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup, Leonardo Adypurnama Teguh Sambodo.
Kehadiran pemangku kepentingan internasional juga digunakan untuk membahas pembiayaan, perdagangan berkelanjutan, dan kesiapan sumber daya manusia menghadapi transisi menuju ekonomi rendah karbon.
Pembiayaan, Perdagangan, Dan Keterampilan
GSDC 2026 menghadirkan sejumlah subkonferensi, termasuk Asia-Pacific Sustainable Business Summit dan Sustainable Trade and Economic Development Summit, yang membahas strategi ekonomi, investasi, dan perdagangan sejalan target keberlanjutan.
Platform Unlocking Capital, diselenggarakan bersama Eco-Business, fokus pada mobilisasi pembiayaan hijau untuk negara berkembang agar mendukung transisi energi, perlindungan lingkungan, dan pembangunan rendah karbon. Sementara Skills Summit menyoroti pengembangan keterampilan dan pendidikan vokasi sebagai kunci transformasi menuju ekonomi hijau yang inklusif.
Kesehatan Sebagai Bagian Pembangunan Berkelanjutan
GSDC 2026 juga menempatkan kesehatan dan kesejahteraan dalam agenda melalui pembukaan One Health and Well-being Zone 2026 oleh Hong Kong Baptist University (HKBU). Zona ini menghadirkan aktivitas seperti pijat tradisional China, Tai Chi, Baduanjin, mindfulness, karate, serta kampanye jalan kaki harian “Walk to Live Well”.
“Keberlanjutan global yang sejati sangat bergantung pada kesehatan, kebugaran, dan ketahanan struktural individu-individu yang mendorong perubahan di lapangan,”
Profesor Alexander Ping-Kong Wai, Presiden dan Wakil Rektor HKBU, mengatakan zona tersebut menghubungkan riset kesehatan dengan strategi kesejahteraan praktis yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari maupun lingkungan kerja.
Ikuti Ihram.co.id
