DUBAI — Upaya perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran kembali menghadapi hambatan. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, pada Selasa (16/6/2026) menyatakan bahwa kesepakatan tentatif untuk mengakhiri perang harus mencakup penarikan mundur pasukan Israel dari Lebanon.
Permintaan tersebut menjadi sorotan karena Israel bukan pihak langsung dalam pembicaraan AS–Iran, namun menolak tuntutan itu. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, pada Senin (15/6/2026) menegaskan pasukannya akan tetap berada di Lebanon “selama diperlukan”.
Ketegangan Diplomatik Dan Dilema Israel
Pernyataan Araghchi kontras dengan draf awal kesepakatan. Seorang pejabat AS yang tidak disebutkan namanya mengatakan draf tersebut tidak memuat poin mengenai penarikan pasukan Israel.
Sementara itu, dua pejabat regional yang terlibat dalam negosiasi mengatakan otoritas Iran bersikeras memasukkan isu Lebanon dalam hari-hari terakhir pembahasan.
Presiden AS, Donald Trump, juga menyampaikan ketidakpuasan terhadap pendekatan militer Israel di Lebanon. “Saya tidak senang dengan cara Israel menangani diri mereka sendiri di Lebanon dan Hizbullah,” ujar Trump saat menghadiri KTT G7 di Prancis. Ia menilai konflik berkepanjangan itu memberi “cahaya negatif” terhadap upaya diplomatik yang sedang diupayakan pemerintahannya.
Harapan Bagi Stabilitas Global
Meski terjadi perselisihan, para pemimpin negara anggota G7 termasuk Prancis, Jerman, Italia, dan Inggris mendesak agar kesepakatan segera diimplementasikan. Mereka menyebutnya sebagai langkah penting bagi stabilitas harga pangan dan energi dunia.
Rencana kesepakatan mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz dan pencabutan blokade pelabuhan Iran. Setelah itu, kedua negara dijadwalkan memulai negosiasi selama 60 hari terkait program nuklir Iran dan kemungkinan pencabutan sanksi.
Hingga kini belum jelas bagaimana AS akan memverifikasi kepatuhan Iran, termasuk soal cadangan uranium yang diperkaya yang dilaporkan tersembunyi di bawah fasilitas nuklir yang pernah menjadi sasaran serangan udara AS pada musim panas lalu.
Konflik yang melibatkan AS, Iran, dan Israel meletus setelah serangan militer gabungan AS dan Israel pada 28 Februari 2026. Perang itu menimbulkan kehancuran infrastruktur, krisis kemanusiaan dengan hampir 4.000 korban jiwa, dan mengguncang ekonomi global akibat penutupan Selat Hormuz.
Upaya gencatan senjata dinilai krusial mengingat dampak ekonomi yang luas, namun keberhasilan negosiasi tergantung pada kemampuan pihak-pihak terkait menyelaraskan tuntutan keamanan Israel dengan syarat yang diajukan Iran.
Ikuti Ihram.co.id
