Wakil Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Wamenkumham), Edward Omar Sharif Hiariej atau akrab disapa Eddy Hiariej, memberikan penjelasan mengenai aturan penangkapan hingga penahanan tersangka dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) baru. Ia menguraikan alasan mengapa penangkapan tidak selalu memerlukan izin pengadilan.
Tiga Upaya Paksa Tanpa Izin Pengadilan
Eddy Hiariej menjelaskan bahwa dari sembilan upaya paksa yang diatur dalam KUHAP baru, hanya tiga di antaranya yang dapat dilakukan tanpa memerlukan izin pengadilan. Sembilan upaya paksa tersebut meliputi penetapan tersangka, penggeledahan, penyitaan, penangkapan, penahanan, pemeriksaan surat, pemblokiran, penyadapan, dan larangan keluar negeri.
“Hanya ada tiga upaya paksa tanpa izin pengadilan, selebihnya itu harus izin pengadilan. Jadi kalau bahasa di publik mengatakan bahwa nanti bisa blokir, menyadap, tanpa izin pengadilan itu hoaks. Itu tidak benar,” tegas Eddy dalam sebuah jumpa pers pada Senin, 5 Januari 2026.
Detail Penyadapan dan KUHAP Baru
Lebih lanjut, Eddy menerangkan bahwa penyadapan tidak diatur secara rinci dalam KUHAP baru. Hal ini dikarenakan adanya putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang menyatakan bahwa penyadapan harus diatur melalui undang-undang tersendiri.
“Itu sebabnya mengapa KUHAP itu tak mengatur penyadapan secara detail, karena perintah MK UU tersendiri. Maka pertanyaannya sebelum ada UU penyadapan, boleh tidak penyidik melakukan penyadapan? Tidak boleh,” jelasnya.
Ia menambahkan, “Karena harus diatur UU tersendiri, kecuali terhadap korupsi, teroris yang menurut UU existing-nya boleh melakukan penyadapan.”
Alasan Penangkapan dan Penahanan Tanpa Izin
Tiga upaya paksa yang dikecualikan dari keharusan izin pengadilan adalah penetapan tersangka, penangkapan, dan penahanan.
Mengenai penetapan tersangka tanpa izin, Eddy beralasan bahwa pada tahap ini belum ada hak asasi yang dilanggar.
“Kedua, mengapa penangkapan tanpa izin pengadilan, penangkapan itu umurnya hanya 1×24 jam, kalau izin terlebih dulu, itu terus kemudian tersangkanya keburu kabur nanti yang didemo polisi juga oleh keluarga korban,” papar Eddy.
Sementara itu, terkait penahanan, Eddy menyebutkan bahwa keputusan tersebut mempertimbangkan letak geografis dan sumber daya manusia. Ia juga mengonfirmasi bahwa selama ini penahanan dilakukan berdasarkan surat perintah penyidik.
“Mengapa ini tanpa izin? Letak geografis di Indonesia jangan dibayangkan Pulau Jawa, di Maluku Tengah itu ada 49 pulau, jarak 1 pulau ke ibu kota kabupaten itu 18 jam, cuaca ekstrem kapal motor tak bisa berlayar 1-2 minggu, kalau minta izin, tersangka keburu kabur siapa mau tanggung jawab? Jadi letak geografis itu yang pertama,” terangnya.
Objek Praperadilan
Eddy juga menyinggung bahwa penetapan tersangka, penangkapan, dan penahanan merupakan objek praperadilan.
“Ada 3 objek praperadilan di luar upaya paksa itu, kalau teman-teman melapor ke polisi mengenai perkara, ternyata perkara itu tak ditindaklanjuti penyidik, saudara bisa praperadilan,” pungkasnya.






